Jumat, 09 November 2012

Kugenggam Kau di Pohon Mangga



Fiona , remaja kecil, pendek, berambut hitam panjang dan berkulit hitam manis yang menjadi incaran semua cowok-cowok disekolahnya hari ini sangat senang sebab ia sudah tak sabar lagi untuk segera masuk sekolah. Ia sudah tak sabar karena besok  adalah hari pertama  Fiona menjadi salah satu senior di SMA nya tercinta , SMA Pelita. Iapun merasa sedikit bangga karena ia bisa naik kelas 11 dengan nilai yang cukup memuaskan, dan masuk jurusan yang ia inginkan yaitu IPS.  Kebetulan Fiona adalah wakil ketua OSIS di sekolahnya sehingga iapun besok ikut serta di kegiatan MOS.

Jreng….jreng……kukuruyuukkk……
Hari yang dinanti-nantikan oleh Fiona akhirnya datang juga. Fiona dengan segera telah mempersiapkan segala kebutuhannya sejak pagi. Setelah semuanya siap , Fiona pergi kesekolah bersama ayahnya.
“berangkat dulu ya mah , asalamualaikum……” sahut Fiona kepada mamahnya.
“walaikumsalam…hati-hati dijalan sayang…jangan galak-galak ntar semua adek kelasmu lari ..” goda mamahnya.
“iya..iya…emang aku apaan mah ? singa ? “ balas Fiona sambil bergegas menuju mobil ayahnya yang sudah siap mengatar Fiona dan adiknya,David.
Sesampainya disekolah Fiona langsung menuju ruang OSIS dan segera mempersiapkan segala peralatan untuk upacara pembukaan MOS.
“kak Fiona .. “ sapa seorang anak di belakang Fiona.
Sontak saja Fiona kaget dan kebetulan Fiona latah “ eee….Fiona Fiona ..apa kamu?”
Kemudian semua orang yang ada dibelakang Fiona tertawa terbahak-bahak melihat Fiona yang biasanya galak bin judes itu latah. Fiona bersikap acuh yak acuh atas kejadian itu dan ia tetap PeDe abis,karena saat ini Fiona merasa sudah menjadi SENIOR . Hhahahahaa…
Saat itu sebenarnya Fiona merasa sangat malu dan ingin menghilangkan latahnya itu, sudah berbagai cara ia lakukan namun hasilnya tetap nihil. Di dalam runangan OSIS yang masih sepi dan berdebu itu Fiona memainkan jari-jarinya. Ia duduk dan berpikir bagaimana cara menghilangkan latahnya itu.
“ehm…kira-kira gimana ya??” gumam Fiona.
“Fiooonaaaaaaa……dooooorrr!!!” suara Adit sang ketua OSIS mengagetkan Fiona.
(latahnya kambuh) “eeee…..doorrrr…” sahut Fiona.
“hahaha…dek Fiona masih latah yaa ?” ledek Adit.
“apa sih kak…ngeledek mulu” jawab Fiona sambil manyun-manyun.
“tambah lucu deh kalok marah, hahaha.” Tambah Adit.
“udah deh kak, jangan  ngeledek Fiona mulu, ayo kita siapin alat-alat buat pembukaan MOS.” Ajak Fiona.
“iya dek, ayooo!” sahut Adit.
Akhirnya kedua sejoli  itupun bergegas mempersiapkan alt-alat yang akan digunakan dan semua anggota OSIS lainnya juga membantu mereka. Pukul 06.30 semua peralatan sudah tertata dengan baik dan tepat pukul 07.00 upacara sudah bisa dimulai. Sebelum upacara dimulai Fiona sempat bercakap-cakap dengan teman sekelasnya dan juga sahabatnya Lisa.
“eh Lis, kamu tau gak ?”
“enggak…emang apa Fi ?” jawab Lisa sembari menggulung-gulung rambutnya.
“hadeh..Lisa Lisa… gini Lis, tadi pagi pas aku berangkat aku di ketawain sama adek kelas kita.”
“ha..??? apa…? Diketawain…?” (matanya Lisa melotot)
“iya Lis..tapi Lis……emmmm…..” 
“tapi apa Fi?”
“tapi anaknya lumayan ganteng kok..hahaha..”
“yaelah Fiona…fiona…aku kirain apaan, udah deh Fi , kamu itu sejak SMP sukanya sama yang brondong, ganti kenapa ?”
“aduh Lisa… dia itu unyu-unyu banget”
“Fiona sayang..hello..?? udah lupakan brondong, bosan aku mendengarnya..ati-ati ntar sakit hati cumin mewek.”
“aduh Lisa, sejak kapan aku sakit hati karena brondong ? Fiona gak bakal deh.”
“udah deh Fi, lupakan saja..susah ngomong sama kamu, udah ayo upacara..kamu kan OSIS.”
“iya Lisa sayang..wekkkkk.” ledek Fiona.
Setelah upacara pembukaan MOS selesai semua peserta MOS dikumpulkan jadi satu di halaman upacara dan mereka dikenalkan dengan para pengurus OSIS yang akan membantu mereka saat MOS. Karena Fiona adalah wakil ketua OSIS tentu ia memperkenalkan dirinya setelah sang ketua yaitu Kak Adit. Saat Fiona memegang microphone tiba-tiba ada genteng jatuh dan sontak Fiona pun menjadi latah. Semua peserta MOS tertawa terbahak-bahak melihat ulah Fiona. Di salah satu sudut barisan terdengar suara seorang laki-laki yang sangat menjengkelkan hati Fiona.
“aaaa…itu mbak yang tadi pagi latah, hahaha.”
Sontak saja semua pandangan tertuju pada sosok yang ada di barisan paling pojok itu. Anak yang ada di barisan paling pojok itu seperti matados alias manusia tanpa dosa, dan dengan santainya ia berkata :
“nge fans ya sama saya, kok semua ngliatin saya, hahaha.”(tertawa gak jelas)
Perkataan yang baru saja keluar dari mulut seorang junior itupun langsung ditanggapi oleh Kak Adit.
“hei dek…kamu yang ada di pojokkan, siapa namamu?” Tanya kak adit.
“iya…siapa namamu? Sewot aja daritadi.” Tambah Fiona.
“aduh kakak ku yang cantik dan yang latah…perkenalkan nama saya David.”
“haaa….? Apa…? David ? gak salah tuh ??” seru Fiona sampai ia mlongo.
‘iya kakak ku yang cantik gak salah kok..” jawab David, sang adek kelas yang sukanya nyolot itu.
Fiona tak menanggapi klimat yang baru saja diucapkan adek kelasnya yang nyolot itu. Saat Fiona mlongo tadi, tanpa ia sadari semua orang yang ada lapangan upacara itu menyoraki Fiona dan David dengan kata-kata yang aneh-aneh, seperti “cieeecieee, cinlok cinlok” dan lain sebagainya. Fiona tidak menggubris omongan semua orang tadi, yang ia pikirkan adalah mengapa adek kelasnya yang super nyolot itu tadi namanya bisa sama dengan nama adeknya sendiri.
Hari pertama menjadi salah satu pembimbing MOS membuat Fiona menjadi lebih tertantang dan penasaran dengan si adek kelas yang super ngeyel itu. Dan hari ini adalah hari kedua dan lagi-lagi Fiona dikerjain oleh adek kelasnya itu. Untuk yang kedua kalinya Fiona dikagetin dari belakang oleh adek kelasnya itu.
Hari ini adalah hari ketiga, dan hari terkhir menjadi pembimbing MOS, tidak seperti biasanya Fiona merasa lega karena ia tak dikagetin oleh sang adek kelas dan ia pun bisa bejalan dari parkiran dengan tenang dan nyaman. Sesampainya di ruang OSIS Fiona melihat sebuah kotak kecil berwarna merah muda dan kotak itu terlihat sangat indah dengan pita warna biru muda diatasnya. Kotak itu diletakkan diatas meja yang bertuliskan nama Fiona diatasnya.
Tanpa basa-basi Fiona langsung mengambil kotak itu, Fiona berharap kotak itu dari orang yang special pula seperti bungkusnya yang sangat indah dan spesila di mata Fiona. Memang seumur-umur baru kali ini Fiona mendapatkan bingkisan yang surprise seperti itu. Perlahan namun pasti, Fiona mulai membuka kotak itu dan isinya ternyata hanyalah sebuah permen lollipop seharga 500 rupiah, namun dalam kotak itu juga ada sebuah amplop kecil berisi surat.
Untuk kakakku yang manis,imut-imut, lucu, dan tentunya yang LATAH. Kak kutunggu kamu dibawah pohon mangga depan sekolah. Permennya dibawa nanti di makan bareng-bareng.  Muahhh kakak J
-rahasia-
Setelah membaca surat itu Fiona kaget dan bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang memberi surat itu ? dan untuk apa surat itu ? apa semua itu hanya untuk melecehkan Fiona, tentu tidak jawabnya.
Jam menunjukkan pukul 13.00 dan sekarang waktunya untuk penutupan MOS,acara berlangsung sangat formal dan saat itu pulaadek kelas yang super nyolot itu diam dan tak bertindak aneh-aneh. Setelah upacara penutupan MOS, Fiona segera bergegas menuju pohon mangga yang ada di depan sekolahnya. Fiona kaget dan sangat kaget tatkala yang ditemuinya adalah  david, adek kelasnya yang super nyolot bin ngeyel itu.
“ehh…kamu ! ngapain kamu belom pulang ?” sahut Fiona.
“lagi sesuatu kak.” jawabDavid dengan nada yang datar dan dingin, sedingin es di kutub utara.
“ha…? Sesuatu?? Hayoo ngapain ?” ledek Fiona.
(David hanya terdiam dan ia malah balik bertanya pada Fiona)
“kakak sendiri ngapain disini?”
“eh kamu, ditanya malah balik nanya…emmmmmm…kasi tau gak yaa ?”
“halah kak…kasi tau lah.”
“emm..iya deh.” (duduk di kursi yang ada di bawah pohon) “gini loo dek, tadi itu aku dapet ini lollipop sama surat, tapi aku gatau pengirimnya, yaudah aku datengin aja sesuai surat ini, biar tau orangnya.”
“kak…..” suara David menjadi lirih.
“dalem dek, ada apa yah?” jawab Fiona dengan lembut.
‘sebenernyaa……..” jawab David sambil memainkan jarinya.
‘sebenernya apa dek ? jangan bilang kalok ini plolipop dari kamu.” Tegas Fiona.
“justru itu kak, aku mau bilang itu.. permen itu memang dari aku, dan kotak itu juga dari aku kak.” Jawab david dengan santainya.
“haaa???? Apa?? Jadi bener ini dari kamu ?” jelas Fiona
‘iya kak…aku itu suka sama kakak, abisnya kakak bikin aku merasa seperti ketemu bidadari latah gitu kak.” Jawab David dengan sangat polos.
“ohh…ya.” Fiona menjawab dengan nada sedikit lesu.
“jadi gimana kak ? kakak mau jadi pacar aku ?”
“ha? Apa? Pacar?” Fiona melotot.
“iya kak, pacar…. Aku tulus kak, mau menerima kakak apa adanya.”
“emm…gimana ya? Aku pikir-pikir dulu ya, beri aku waktu.”
Saat Fiona sedang asyik berpikir tiba-tiba David pergi menghilang dan David tidak mengucapkan selamt tinggal kepada Fiona. Fiona bingung dengan sikap David, dan ia pun akhirnya pulang.
Sesampainya dirumah Fiona merasa ada yang aneh dengan kepergian David siang tadi. Karena kejanggalan yang Fiona rasakan akhirnya malam itu Fiona tak bisa tidur hingga larut malam, dan ia juga masih berpikir-pikir dengan hatinya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, apakah ia akan menerima David sebagai pacarnya ? entalah ia tak tau. Saat Fiona sedang berpikir akan keputusannya, tiba-tiba handphone Fiona bergetar, dan ada tanda sms yang masuk. Dengan sigap Fiona segera mengambil handphone yang ada di kasurnya itu.
Pengirim : 085747888999
Pesan : kak, kutunggu jawaban kakak besok sepulang sekolah di bawah pohon mangga.
Penerima : 085777666444
Setelah membaca pesan singkat itu Fiona tak berekspresi, ia hanya terdiam dan perlahan menelan ludah. Dalam hatinya ia merasa sangat kacau, dan ia tak bisa berpikir hal apa yang harus ia lakukan tanpa harus menyakiti hati dan perasaan David. Karena kebimbangan hati itu akhirnya Fiona tertidur dengan menggenggam handphone di tangannya.
Pada keesokan harinya Fiona mersa sangat malas ke sekolah dan ia sangat lemas, ia tak sanggup mengatakan semuanya di depan David. Namun ia tetap berangkat ke sekolah karena ia harus memimpin rapat OSIS.
Tak terasa waktu pada hari ini berlangsung sangat cepat,  dan tak terasa pula bel pulang pun terdengar keras di telinga Fiona. Sebelum memimpin rapat OSIS, Fiona menyempatkan diri untuk bertemu dangan David, dibawah pohon mangga.
“emm… dek, maaf sebelumnya ya.. tolong kasih waktu lagi untuk aku berpikir,karena waktu satu hari itu ternyata kurang.” Kata Fiona lirih sambil menunduk memainkan jari tangannya.
“ohh…gitu ya kak, ya sudah kutunggu kak, ingat ya kak.. aku sayang banget sama kakak jadi tolong jangan kecewain aku kak.” Jawab David sembari memegang tangan Fiona.
“iya dek.. ya sudah dek, aku mau rapat OSIS dulu, sana kamu pulang dulu, hati-hati di jalan.” Tegur Fiona sambil melepaskan tangannya dan bergegas pergi meninggalkan David.
“iya kak..selamat rapat, aku sayang kakak.” Jawab David, dan ia juga pergi.
Setelah menemui David, Fiona menuju ruang OSIS dan segera memimpin rapat. Fiona tidak konsentrasi dalam memimpin rapat hingga akhirnya ia di tegur sama beberapa temannya. Saat ia sudah mulai konsentrasi terhadap rapat yang ia pimpin, tiba-tiba saja handphone yang ada di kantung bajunya itu bergetar. Dan saat itu ia meminta izin untuk membuka pesan singkat itu, dan betapa terkejutnya hati Fiona saat ia menbaca bahwa isi pesan singkat itu adalah berita duka untuknya.
David, sosok laki-laki yang baru saja membuat pikirannya kacau berantakan itu kiini sudah terbaring kaku di ruang jenazah rumah sakit setempat. Dan saat itu pula Fiona segera membubarkan rapat yang ia pimpin dan ia termenung menangisi semua itu sebelum akhirnya ia bergegas menuju ruang jenazah dimana David berada.Tanpa Fiona ketahui, ternyata David memang sudah menderita penyakit yang sangat parah, yaitu kanker otak.
Dan saat itu pula Fiona hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Fiona merasa sangat kehilangan. Dan ia sangat menyesal karena ia juga belum bisa membalas cinta David yang telah diberikan untuknya, dan kini yang tersisa hanyalah Fiona yang merasa sendiri tanpa seorang David yang ia bayangkan sebelumnya. Dan tanpa ia sadari bahwa siang hari sepulang sekoalah itu tadi adalah genggaman erat dari sosok David untuk yang pertama dan terakhir yang dirasakan Fiona.

by : ika madyarina mastuti 

0 komentar:

Posting Komentar